Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Tamu yang Singgah

0 tanggapan

Waktu berjalan dan hari terus berganti. Bilangan usia bisa bertambah namun jatah hidup tak mungkin dapat kita ubah. Begitulah adanya hidup ini. Bagi yang bijak memanfaatkan waktu, kemenangan lah yang akan didapat. Namun tak jarang yang merugi karena waktu. Rugi karena tidak memanfaatkan waktu untuk meningkatkan iman, beramal shalih, menabur kebajikan serta saling menasehati dalam perkara kebenaran.

Dalam sebuah nasehatnya kepada Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri mengibaratkan hari yang kita lalui sebagai seorang tamu yang mampir ke rumah dan akan segera pergi meninggalkan kita. Jika tamu tersebut disambut dan dijamu dengan baik, ia akan menjadi saksi bagi kita sebagai tuan rumah, memuji perbuatan kita, dan akan mencintai kita dengan tulus. Tetapi jika sambutan dan jamuan kita buruk terhadapnya, maka hal itu akan terus terbayang di pelupuk mata.

Umur yang tersisa tidak dapat ditukar dengan harga atau tebusan apa saja. Apabila seluruh dunia dikumpulkan, maka ia tidak akan sebanding dengan umur seseorang yang tersisa. Mari kita koreksi diri kita pada hari ini, perhatikan setiap saat yang berlalu, hargailah ia, dan waspadalah terhadap penyesalan ketika maut datang.
Read On

Dua Telinga dan Satu Mulut

0 tanggapan

Perjalanan belum dimulai, namun seorang lelaki paruh baya yang duduk di samping saya langsung menyapa saya dengan hangat. Dimulai dengan perkenalan dan saling menanyakan aktivitas masing-masing, kami memulai percakapan. Awalnya percakapan berjalan dua arah, namun nampaknya lelaki paruh baya itu memang senang bercerita. Banyak yang ia ceritakan, mulai dari kegiatannya sehari-hari sampai menuju pembicaraan yang cukup berat mengenai prinsip-prinsip hidup yang ia pegang. Lama-kelamaan alur percakapan menjadi satu arah, yaitu dari lelaki itu ke saya. Saya lebih banyak jadi pendengar dan berusaha menjadi pendengar yang baik dengan memperhatikan dan menanggapi ceritanya walau terkadang terasa membosankan. Untungnya saya ingat perkataan seorang teman saya bahwa dengan mendengar kita akan mendapatkan banyak informasi dengan catatan kita benar-benar mendengarkan, tidak sekadar mengiyakan. Memang tak jarang ceritanya susah untuk dimengerti karena alurnya yang tidak urut sehingga terasa membosankan. Namun lelaki itu terus bercerita dengan antusias. 

Mengapa ia terus bersemangat sedangkan saya sudah seperti kehabisan tenaga untuk mendengarkan? Jawabannya adalah karena manusia cenderung tertarik pada cerita tentang dirinya sendiri. Anda pasti pernah mengalaminya misalnya saat pulang dari liburan, masing-masing akan berebut menceritakan mengenai liburannya dan tak jarang cerita dari temannya tidak ada yang masuk di kepala. Inilah salah satu sifat alami manusia. Apakah hal ini negatif? Tentu saja tidak jika kita menanggapinya dengan cara yang tepat. Bahkan kita dapat menggunakannya sebagai cara agar kita disukai oleh orang lain yaitu dengan cara mendengar yang baik. Tapi hal ini terkadang sulit dan memerlukan latihan. Kita mempunyai dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun apa dikata, karena mulut terletak di depan, tak jarang kita lebih banyak bicara daripada mendengar.
Read On

Kendaraan dan Tujuan

0 tanggapan

Bayangkan Anda mempunyai mobil yang bagus dan nyaman untuk dikendarai. Mobil tersebut mempunyai perangkat kemudi otomatis. Yang Anda lakukan hanyalah memberitahu ke mana Anda akan pergi dan mobil itu akan mencarikan jalan tersingkat ke tempat tujuan Anda tersebut. Beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin hal ini belum terbayang dalam benak sebagian besar orang. Namun pada masa sekarang, hal ini telah menjadi kenyataan. Apa perbedaan dan persamaan mengemudi otomatis dengan manual yang biasa kita lakukan? Perbedaannya adalah  siapa yang membantu Anda mencapai tempat tujuan. Persamaan yang pokok adalah  Anda tetap harus mempunyai tujuan. Inilah intinya. Jika kita mengemudi secara manual dengan tanpa tujuan, mungkin kita masih bisa menjalankan mobil tersebut, namun hanya akan berputar-putar saja. Sedangkan kemudi otomatis tidak akan berjalan tanpa perintah yang jelas dari sang pengendara. Ini adalah logika yang sangat mudah kita mengerti. Lalu bagaimana halnya jika mobil itu adalah seperangkat nikmat yang diberikan Allah kepada kita, entah itu jiwa, raga, ataupun harta? Bagaimana dengan tujuan hidup kita? Sudahkah kita mempunyai tujuan hidup yang jelas, terperinci? sehingga seluruh potensi dapat digunakan untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien?
Read On

Apakah Anda Kaya?

1 tanggapan

Dalam suatu perjalanan saya pernah ditanya oleh seorang teman. Demikian pertanyaannya, "Menurutmu, kamu merasa kaya tidak?" 

Waktu itu saya terdiam sejenak, lantas saya menjawab. "Kalau menurut saya, kaya itu tidak harus berarti memiliki harta yang banyak. Kalau demikian saya bisa merasa kaya. Karena kaya dapat diartikan  memiliki sesuatu yang dapat bermanfaat bagi orang lain "

"Oh begitu ya" kata teman saya. Kemudian dia berkata, "Memang, kaya tidak harus mempunyai banyak harta. Banyak ilmu, banyak memberi manfaat pada orang lain, itulah kaya yang sebenarnya."

Perkataan teman tadi sampai sekarang masih saya ingat. Setelah dipikir-pikir lagi, kita merasa kaya kalau kita banyak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Badan yang sehat, keluarga yang bahagia, kesempatan belajar merupakan sedikit dari nikmat yang Dia berikan. Belum lagi udara yang kita hirup, bumi yang terhampar untuk tempat kita beraktivitas, dan masih banyak nikmat lain yang kalau samudera menjadi tinta dan seluruh pohon di muka bumi menjadi pena, tak akan sanggup menulis semua nikmat dan kebesaran-Nya.

Hal lain yang menjadi renungan adalah, dengan memberi maka berarti kita kaya. Karena jika kita memberi, maka berarti kita mempunyai kelebihan dan tidak merasa kekurangan. Ini yang disebut Stephen Covey sebagai 'mental berkelimpahan' (abundance mentality). Kita hanya memberi apa yang kita punya. Jika kita dapat memberi harta berarti kita memiliki harta, memberi ilmu berarti kita memiliki ilmu, memberi kasih sayang berarti kita memiliki kasih sayang dalam diri kita. Tidak mungkin kita memberikan sesuatu yang kita tidak punyai. "Poci yang berisi teh hanya akan mengeluarkan teh", begitu ungkapan yang semakna dengan apa yang saya sampaikan tadi.

Kaya tidak hanya berarti memiliki sesuatu. Lebih jauh lagi, kaya bermakna memberi. Memberi apa yang telah kita miliki. "Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah".

Sekarang jika pertanyaan yang serupa saya tanyakan kepada Anda, apa jawaban Anda? Apa pengertian kaya menurut Anda?
Read On

Pohon Apel dan Anak Lelaki

0 tanggapan

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. 

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi kadang begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Read On

Tiga Hari Dalam Hidup Manusia

0 tanggapan

Dunia tidak lebih dari tiga hari, yaitu: hari yang telah berlalu yang tidak mungkin kamu harapkan kembali, hari dimana kamu sekarang berada maka selayaknya kamu memanfaatkannya sebaik-baiknya, dan hari yang kamu tidak tahu apakah kamu termasuk yang mengalaminya ataukah tidak. Dan kamu tidak tahu, apakah kamu akan mati sebelumnya.

Hari yang telah lalu, adalah hari yang bijaksana dan memberi pelajaran sedangkan hari ini adalah kawan yang segera mangucapkan selamat tinggal. Hari kemarin, meskipun menyedihkanmu, tetapi ia masih menyisakan pelajaran yang bijaksana di tanganmu. Jika dahulu kamu menyia-nyiakannya, maka sekarang telah datang penggantinya, di mana sekian lama ia tidak berjumpa denganmu dan sekarang ia segera meninggalkanmu.

Sedangkan hari esok, harapannya ada di tanganmu pula, maka ambillah kepastian dengan melakukan amal dan tinggalkan ketertipuan dirimu dengan angan-angan sebelum saat yang ditentukan tiba. Janganlah kamu memasukkan kekhawatiran terhadap hari esok atau setelahnya ke dalam hari ini sehingga menambah kesedihan dan kepayahanmu, di mana kamu ingin agar pada hari ini menghimpun segala yang mencukupimu selama hari-harimu yang lain. Kesibukan semakin banyak, kepayahan semakin bertambah, dan hamba telah menyia-nyiakan amal dengan angan-angan.

Jika harapanmu terhadap hari esok benar-benar keluar dari hati, niscaya pada hari ini kamu melaksanakan amal yang sebaik-baiknya dan mengurangi kesedihanmu. Tetapi, harapanmu pada hari esok ternyata menjadikanmu ceroboh dan mengajakmu untuk semakin menjadi-jadi dalam mengejarnya.

(Wasiat Hasan Al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz)
Read On